KONI ASAHAN - Agustina Dan Masriana Ujung Sebuah Kerja Keras Dan Doa
Agustina Dan Masriana Ujung Sebuah Kerja Keras Dan Doa
KONI(ASAH):Munculnya Agustian Mahardika Manik (atlet atletik/ lari) dan Masriana Sirait (hoki) yang memperkuat Indonesia di Asian Game merupakan bentuk kerja keras dan doa, sehingga dua putri Asahan ini bisa ikut memperkuat martabat bangsa di bidang olahraga.
Bila digali lebih dalam, kedua atlet ini mempunyai multi talenta, dan mempunyai kisah yang cukup mangharukan. Seperti yang dialami Austina Mahardika, putri ke-6 dari 8 bersaudara pasangan Almr Rajab Manik, dan Dameria Siregar. Di saat akan masuk perguruan tinngi Unimed, sang ayah meninggal, sehingga sang ibu harus berusaha sendiri untuk membesarkan 8 anak-anaknya.
"Kakaknya Agustina juga atlet pelari, namun karena perekonomian mereka tidak bisa jadi atlet, karena harus bekerja membantu perekonomian keluarga," jelas ibu Agustina, Dameria Siregar, saat berbincang dengan Waspada, di kediamannya di Dusun II, Urung Pane, Desa Hutapadang, Kec BP. Mandoge, Kab Asahan.
Dameria, juga sempat melarang Agustian untuk menjadi atlet lari, namun Almr ayahnya, mencegah hal itu, dan mendukung penuh putrinya, di bidang apapun yang diminati. Sehingga Agustina tetap meniti karir, mulai lolos dari tingkat kecamatan, kabupaten dan jadi atlet PON 2016, dan kini masuk Asian Games.
"Ini bagaikan mukjizat di keluarga kami, dan ini merupakan nikmat Allah yang tidak bisa digantikan," jela Dameria.
Dameria yang bekerja sebagai petani dan tinggal di rumah yang cukup sederhana, sangat berharap anaknya bisa tampil dengan maksimal, dan berharap masyarakat Asahan bisa mendoakan anaknya agar bisa tampil maksimal dan meriah prestasi.
"Rasanya cukup bangga, kami ini orang miskin, anakku bisa kuliah. Aku selalu mendoakannya setia solat, agar dia sukses di Asian Game," jelas Dameria.
Berbeda kisah Masriana Sirait, sebelumnya tidak ada kemampuan dalam olahraga Hoki, karena olahraga ini cukup jarang di daerah. Sehingga Putri ke-7 dari 8 bersaudara ini menekuni atletik dengan lari 100 M, kemudian sempat juga bergabung di tim voli, dan akhirnya kuliah di Unimed. Tidak sampai disitu, Masriana sempat juga jadi guru renang. Akhirnya dirinya mendapat peluang bermain hoki, dan lolos jadi atlet di Pon 2016, dan melaju di Sea Game 2017 di Malaysia.
Bahkan sang ayah Tauluddin Sirait, di Dusun II, Desa BP.Mandoge, Kec BP Mandoge, menuturkan dirinya tidak berani berharap banyak, karena putrinya bisa menjadi atlet Hoki merupakan suatu kebanggaan dan anugrah tidak ternilai bagi keluarganya. Ha itu tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam benak orang tua Masriana.
"Bermimpi saja saya tidak berani, saya hanya pencari ikan di Sungai. anak saya bisa membawa nama Indonesia ajang Internasional, ini merupakan anugrah," jelas Tauluddin.
Tauluddin, menjelasakan hasil sekarang ini merupakan kerja keras anaknya yang tidak mau menyerah dengan keadaan. Dan dirinya sebagai sebagai orang tua hanya bisa mendukung dengan materi seadanya, dan doa yang tidak pernah putus.
"Terima kasih kepada pemerintah dan KONI Asahan yang telah memperhatikan anaknya," jelas Tauluddin.
Sedangkan Ketua KONI Asahan Nurkarimm Nehe, menuturkan dengan keluarnya dua atket Asahan memperkuat Asian Games, sehingga bisa menjadi menjadi motivasi tersendiri bagai atlet muda yang ada di daerah, dan hal ini juga menggambarkan, bahwa sebuah kerja keras itu selalu akan dibayar dengan hasil yang luar biasa. Dan sebagai bentuk apresiasi KONI memberikan tali asih kepada kedua atlet masing-masing Rp 10 juta.
"Kita berharap ke depan Asahan bisa terus melahirkan atlet yang profesional," jelas Nehe.