Letjen Edy Rahmayadi yang sebagai Pangkostrad menegaskan hal itu kepada wartawan di sela acara pembukaan TMMD di Batubara, Kamis (8/10). “Belum cairnya? Mudah mudahan cepat cair lah,”tandasnya.
Jenderal berbintang tiga ini menghimbau stakeholder sepakbola Medan dan Sumut jangan larut dan hanya menceritakan kebanggaan atas keberhasilan PSMS menjuarai Piala Kemerdekaan.
“Itu awal getaran untuk membangkitkan kejayaan persepakbolaan Sumatera Utara yang sesungguhnya,”ujarnya.
Letjen Edy Rahmayadi sangat berharap semua pihak untuk membangun sepakbola Sumatera Utara.
“Kita bertekad membangkitkan persepakbolaan Sumatera Utara agar sepakbola nasional mampu berprestasi di level dunia seperti kejayaannya dahulu,”katanya.
Edy Rahmayadi menyatakan Sepakbola bisa menghentikan sejenak aktifitas publik jika ada event sepakbola yang berkualitas. “Lihat bagaimana, misalnya Brazil, memutar otak dan mengerahkan segala kekuatan untuk mempersiapkan penyelenggaraan sepakbola dunia. Dan bisa dibuktikan begitu besarnya multi efek kegiatan sepakbola mendongkrak infrastruktur dan kesejahteraan,”ujarnya.
Dalam kaitan kebangkitan prestasi persepakbolaan Sumatera Utara, Pangkostrad berharap dengan getaran keberhasilan PSMS menjuarai Piala Kemerdekaan hendaknya diikuti seluruh Kabupaten/Kota se Sumatera Utara membangun persepakbolaan masing masing daerahnhya.
Ketua Umum KONI Asahan Nurkarim Nehe,SE,MSP yang duduk di sebelah Pangkstrad memaparkan bahwa Bupati Asahan 2010-2015 Drs.H.Taufan Gama Simatupang MAP saat peresmian gedung kantor KONI Asahan tanggal 30 Mei 2015 menekankan kepada KONI Asahan untuk segera menggarap program “satu kecamatan satu lapangan sepakbola publik”, kemudian Nehe meminta dukungan moril Pangkostrad.
“Bagus itu, kita sangat antusias. Mari kita ketok pihak yang punya potensi mengembangkan sepakbola di daerah ini,”tanggap Pangkostrad.
Pangkostrad mengingatkan, bahwa membangun persepakbolaan antara lain bagaimana melahirkan pesepakbola, bagaimana menjadikan pesepakbola sehat lahir dan bathin sekaligus memberikan kesejahteraan.
“Bukan berarti kaya raya melainkan bagaimana adanya jaminan masa depan bagi pesepakbola berprestasi, jika ingin kaya raya jadilah pengusaha bukan jadi pesepakbola,”tegasnya. (Analisa)