KONI ASAHAN - Pada Tahun 1953, Organisasi Panahan Resmi di Indonesia
Pada Tahun 1953, Organisasi Panahan Resmi di Indonesia
Panahan (bahasa Inggris: archery) adalah salah satu olahraga yang dilakukan pemanah dengan cara menembakkan anak panah dengan bantuan busur untuk mencapai target atau sasaran tembak pada jarak yang sudah ditentukan. Berdasarkan pembinaan kondisi fisik, ada komponen-komponen fisik yang lebih spesifik untuk panahan, yaitu daya tahan, kekuatan, kelenturan, dan struktur atau akurasi.
Dengan memiliki kekuatan otot dan daya tahan otot yang baik, maka akan memberikan keuntungan besar bagi pemanah untuk tampil di puncaknya. Di samping itu, memanah membutuhkan kekuatan otot tubuh bagian atas dan inti yang menggerakkan kelompok otot utama.
Dalam perlombaan ada 36 anak panah yang harus ditembakkan ke face target dengan jarak 30 meter. Face target atau sasaran tersebut berbentuk Iingkaran dengan garis tengah 30 centimeter. Setiap sasaran memiliki nilai masing-masing dimulai dengan 0 (sasaran pinggir) sebagai nilai terkecil hingga nilai terbesar 10 (sasaran tengah). Cabang olahraga panahan tingkat internasional dibagi menjadi dua divisi yaitu recuve dan compound, sedangkan di Indonesia memiliki 3 divisi yaitu divisi recurve, divisi compound, dan divisi standart bow.
SEJARAH
Panahan adalah kegiatan menggunakan busur panah untuk menembakkan anak panah. Bukti-bukti menunjukkan panahan dimulai sejak 5.000 tahun lalu. Awalnya, panahan digunakan dalam berburu sebelum berkembang sebagai senjata dalam pertempuran dan kemudian jadi olahraga ketepatan.
Dari buku-buku dilukiskan bahwa orang purbakala telah melakukan panahan yaitu menggunakan busur dan panah untuk berburu dan untuk mempertahankan hidup. Bahkan dari beberapa buku lain melukiskan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang lalu suku Neanderthal telah menggunakan busur dan panah.
Ahli-ahli purbakala dalam penggalian di Mesir juga telah menemukan tubuh seorang prajurit Mesir Kuno yang mati ditembus anak panah. Data menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi kira-kira 2100 tahun sebelum masehi. Selain itu, literatur lain menuliskan bahwa sampai kira-kira tahun 1600 sesudah Masehi, busur dan panah merupakan senjata utama setiap negara dan bangsa untuk berperang.
Atas prakarsa Raja Charles II dari Inggris, panahan mulai dipandang sebagai suatu cabang olahraga. Menurut World Archery, kompetisi panahan pertama kali berlangsung di Finsbury, Inggris pada tahun 1583 yang diikuti oleh sekitar 3.000 peserta. Pada tahun 1844 di Inggris diselenggarakan perlombaan panahan kejuaraan nasional dengan nama GNAS (Grand National Archery Society). Panahan menjadi cabang olahraga Olimpiade pada 1900 untuk pria dan 1904 untuk wanita.
PANAHAN DI INDONESIA
Panahan dimulai sejak 5.000 tahun lalu. Negara pertama yang menganggap panahan sebagai olahraga adalah lnggris. Pada tahun 1676, Raja Charles II menggelar perlombaan panahan. Organisasi panahan resmi di Indonesia dibentuk pada tanggal 12 Juli 1953 di Yogyakarta atas prakarsa Sri Paku Alam VIII dengan nama PERPANI (Persatuan Panahan Indonesia). Setelah Perpani dibentuk, Indonesia diterima sebagai anggota FITA (Federation International de Tir A L'arc) dalam kongres di Oslo, Norwegia. PERPANI selalu berusaha dan berhasil mengikuti kejuaraan dunia.
Kejuaraan nasional pertama sebagai perlombaan yang terorganisir di Indonesia, baru diselenggarakan pada tahun 1959 di Surabaya. Diterimanya Indonesia sebagai anggota FITA pada tahun 1959, maka pada waktu itu di Indonesia selain dikenal jenis panahan tradisional dengan ciri-ciri menembak dengan gaya duduk juga dikenal pula ronde FITA yang merupakan jenis ronde internasional, yang menggunakan alat-alat bantuan luar negeri yang Iebih modern dengan gaya nembak berdiri.
SEJARAH CABANG OLAHRAGA PANAHAN DI INDONESIA
Panahan telah ikut ambil bagian dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Pertama di Kota Solo pada tahun 1948. Panahan cabang termasuk yang banyak diminati peserta. Melihat respons yang begitu positif maka Sri Paku Alam VIII kemudian mendirikan Persatu Panahan Indonesia (Perpani), pada 12 Juli 1953. Sri Paku Alam VIII didaulat sebagai Ketua Umum Perpani dari tahun 1953-1977.
Dengan terbentuknya Organisasi Induk Perpani, maka langkah pertama yang dilakukan adalah menjadi anggota FITA (Federation Internationale de Tir A L’arc). Indonesia diterima sebagai anggota FITA pada tahun 1959 pada konggresnya di Oslo, Norwegia.
Sejak saat itu Panahan di Indonesia maju pesat, walaupun pada tahun-tahun pertama kegiatan Panahan hanya terdapat di beberapa kota di pulau Jawa saja. Kini boleh dikatakan bahwa hampir di setiap penjuru tanah air, Panahan sudah mulai dikenal.
Dengan diterimanya sebagai anggota FITA, maka pada waktu itu di Indonesia selain dikenal jenis Panahan tradisional dengan ciri-ciri menembak dengan gaya duduk dan instinctive, maka dikenal pula jenis ronde FITA yang merupakan jenis ronde Internasional, yang menggunakan alat-alat bantuan luar negeri yang lebih modern dengan gaya menembak berdiri. Dan dengan demikian terbuka pulalah kesempatan bagi pemanah Indonesia untuk mengambil bagian dalam pertandingan-pertandingan Internasional.
Sejak Kongres Perpani tahun 1981 bersamaan dengan PON X, pola kebijaksanaan Perpani diubah. Kejuaraan Nasional diselenggarakan setiap tahun (kecuali tahun diselenggarakannya PON tidak ada Kejuaraan Nasional). Kejuaraan tersebut memperlombakan ketiga ronde Panahan sekaligus yaitu Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional.
Sebelum tahun 1959, panahan hanya memperlombakan Ronde Tradisional, yaitu ronde duduk, dengan hanya satu jarak 30 meter, dengan 48 tambahan 4 anak panah. Selain itu sasaran bulatannya pun hanya dibagi tiga bagian saja.
ISTILAH PANAHAN
Dalam panahan ada beberapa istilah yang harus diketahui, di antaranya adalah sebagai berikut: Set up adalah istilah untuk pemanah yang harus bersiap dalam sebuah pertandingan. Drawing adalah istilah bagi pemanah untuk berposisi menarik string. Holding adalah istilah untuk sikap menahan tepat sebelum anak panah dilepaskan. Back tension adalah persiapan pemanah dengan melakukan gerakan sebelum melepaskan anak panah. Aiming adalah istilah ini digunakan ketika pemanah membidik. Anchoradalah istilah untuk pemanah melakukan ancang-ancang. Release adalah istilah untuk melepaskan anak panah. Follow through adalah istilah gerakan pemanah selanjutnya sesudah anak panah terlepas.
MANFAAT PANAHAN Menguatkan tubuh bagian atas
Olahraga panahan menitikberatkan tekanan pada otot kedua lengan dan dada, punggung dan bahu. Tekanan ini akan ditahan dalam beberapa detik sebelum melepaskan anak panah. Dengan adanya pengulangan, tekanan menarik dan melepaskan tali busur dapat memperkuat otot tubuh bagian atas.
Mengontrol keseimbangan
Berlatih memanah dapat membantu mengontrol keseimbangan saat pemanah fokus membidik target. Semakin banyak berlatih, semakin otot inti akan terbiasa untuk menyeimbangkan tubuh.
Melatih koordinasi
Dalam memanah koordinasi yang paling utama adalah mata dan tangan. Olahraga ini melatih tangan bekerja sama saat melakukan tugas berbeda, yaitu membidik dan menembakkan anak panah berdasarkan apa yang mata lihat.
Menyehatkan jantung
Dalam sebuah pertandingan, pemanah bisa berjalan sejauh 8 kilometer ketika melakukan pengecekan hasil tembakan. Meskipun aktivitas berjalan dilakukan dengan interval yang pendek, efek kumulatif dari berjalan ini dapat meningkatkan kesehatan jantung, kekuatan otot, dan kekuatan kaki.
Melatih fokus
Semakin terfokus pada target, maka semakin mudah menjernihkan pikiran dan membidik sasaran dengan tepat. Keterampilan ini juga pasti dapat membantu menghadapi situasi stress dan menekan dalam hidup.
Relaksasi
Melepaskan panah, melihat busur terbang, dan mendengarnya sampai di bulatan target dinilai dapat membantu menghilangkan stress.
Melatih Kesabaran
Olahraga panahan bisa membantu melatih kesabaran. Olahraga ini bukan tentang sebuah kecepatan atau akselerasi, tapi ketepatan anak panah membidik sebuah sasaran dengan jarak yang cukup jauh. Ketepatan membutuhkan waktu dan kesabaran yang tinggi untuk memaksimalkan hasil bidikan yang akurat.
Melatih Percaya Diri
Dalam panahan, atlet bisa bersaing dengan pemanah lain atau melawan dirinya sendiri. Akan tetapi, olahraga ini membutuhkan latihan yang rutin dan disiplin untuk membangun kepercayaan diri.